Sunggu Tega, 5 Pemain Keturunan Indonesia Ini Rela Kalahkan Timnas Dengan Seragam Lain

Sebagai negara besar banyak keturunan Indonesia tersebar di berbagai belahan dunia. Umumnya darah Indonesia mereka mengalir dari sanak keluarga di tanah air, bisa dari nenek, kakek atau pernikahan dengan orang luar. Dalam sepak bola beberapa keturunan negara kita mulai di perhatikan oleh PSSI. Hal tersebut membuat banyak pemain keturunan mulai banjiri timnas.


Seperti contohnya adalah Ezra Walian, pemain timnas U-23. Dalam perubahan WNA menjadi WNI tidak semua tertarik membela timnas. Mereka yang memutuskan menolak, disebabkan sudah ada negara yang dianggapnya memiliki prospek lebih bagus. Pemain yang enggak tersebut tidak jarang malah mengalahkan Indonesia saat bertemu. Bahkan, tak melakukannya tanpa rasa sungkan. Lalu siapa sajakah mereka? Simak ulasannya berikut.

Noh Alam Shah legenda Arema berasal dari Timnas Singapura
Along biasa dirinya disebut, nama tersebut merupakan inisial yang sering disebut saat bermain di Indonesia. Kehebatannya sebagai penyerang, tentunya tidak diragukan lagi. Hal ini dibuktikan dengan pernah mendapatkan gelar top skore pada kompetisi AFF. Saat itu Singapura juga di bawanya meraih dua kali gelar juara berturut-turut.


Pada tahun 2004 saat meraih juara pertamanya Noh Alam Shah mengalahkan timnas Indonesia di final. Meski pernah membawa luka untuk negara kita, namun, Along juga membawa kegembiraan dengan membuat tim Arema menjadi juara pada tahun 2012 . Darah Indonesia nya mengalir dari sang bunda yang merupakan orang Indonesia. Melansir laman Indosport, Ibuknya merupakan orang asli Bawean.

Mahali bin Jazuli pernah membuat Indonesia menangis
Tangisan para pemain Indonesia pecah tak kala timnas saat itu gagal melangkah ke babak selanjutnya. Piala AFF 2012 menjadi suatu yang terlupakan untuk Bambang Pamungkas dkk, saat itu kita dikalahkan telak oleh Malaysia di hadapan pendukungnya. Luka itu semakin menjadi-jadi karena sebelumnya pada tahun 2010, timnas kita dikalahkan oleh negara tetangga tersebut.


Pada edisi 2012, menjadi waktu yang bersejarah untuk Mahali bin Jazuli, pasalnya pemain berdarah Indonesia mampu menjebol gawang tanah leluhurnya. Jazuli, sendiri berdarah Indonesia dari bapak dan ibu yang merupakan orang Bawean. Keputusannya membela Malaysia disebabkan oleh dari dulu memang pemain ini lahir dan tumbuh di negara tersebut.

Taufik Suparno bakat hebat Singapura berdarah Indonesia
Usianya muda, memiliki kemampuan yang hebat saat memegang bola atau melakukan akselerasi. Begitulah gambaran umum dari pria berdarah Indonesia ini. Taufik saat bermain untuk kesebelasan Tampines Rovers yang beberapa lalu dikalahkan Persija Jakarta. Penyerang ini, masih keturunan Indonesia lantaran Ayahnya merupakan orang asli daerah di Jawa.


Keputusan membela Singapura lantaran dirinya mengaku tidak mengetahui Indonesia. Melansir pada laman Indosport, mengaku tidak tahu apapun tentang negara ayahnya. Hal ini terjadi, karena keluarganya hampir semua sudah berpindah di Singapura. Di usianya masih belia kehebatan Taufik nantinya dapat menjadi ancaman untuk pemain bertahan Indonesia apabila bertemu.

Masimo Luongo pemain bintang timnas Australia
Dalam belantika sepak bola tanah air, nama Luongo mungkin jarang terdengar. Namun, pemain timnas Australia berdarah Indonesia ini memiliki segudang prestasi. Melansir pada laman Fandom tercatat Luongo merupakan pemain terbaik, Asia 2015 dan pernah membawa timnasnya juara pada ajang internasional. Kegemilangannya membuat klub Inggris kepincut meminangnya.


Saat ini dirinya bermain di kesebelasan QPR, Luogono juga pernah bermain di Tottenham pada tahun 2012. Darah Indonesia menurun dari sang ibu merupakan orang asli Nusa Tenggara Barat. Usut punya usut, Ira Luongo masih keturunan dari Sultan Bima Dompu di pulau Sumbawa. Banyak pertandingan antara Indonesia melawan Australia yang berhujung kekalahan timnas.

Andri Syahputra keturunan Indonesia yang memilih Qatar
Darah Indonesia jelas mengalir deras pada tumbuh Andri Syahputra. Pasalnya, pemain timnas Qatar memang asli WNI sebelum bergabung dengan negara Asia Timur itu. Kari bagusnya saat berlatih di negara tersebut membuatnya dimanti untuk membela Qatar U-19. Hal tersebut sampai membuatnya menolak panggilan timnas Indonesia U-19.


Dalam cerita ini memang kita harus tetap menghargai pilihannya. Meski terlihat tidak nasionalis, namun dirinya harus tetap dipandang dengan sisi positif. Kemampuan Andri merebut simpati negara Qatar semakin memperjelas kalau bakat sepak bola negara kita hebat. Saat ini penyerang belia bermain di klub AL-Gharafa Sports Club bersama legenda timnas Belanda.
Pemilihan negara pemain tersebut, tentunya tidak boleh disalahkan. Sebab dalam urusan tersebut memang seorang pemain bebas untuk menentukan. Bahkan ketika nantinya mengalahkan Indonesia pada multi-Event bukan sebuah kekiliruan. Memang di dalam lapangan hanya tim yang dibela adalah teman mereka lainnya adalah musuh. Sebagai pencinta sepak bola yang budiman kemampuan hebat mereka digunakan negara lain bukanlah untuk disesali, karena melihat hebatnya pemain timnas saat ini tidak kalah kalah dengan mereka.

Sumber

Jika Pemain Ini Resmi Dinaturalisasi, Timnas Indonesia Akan Memiliki Pertahanan Yang Hebat

Jakarta, Indonesia – seperti dikutip bolasport.com, Kamis (8/3/2018), Tim Nasional Indonesia asuhan Luis Milla memang sudah memiliki pemain berposisi wing bek kiri yang sangat mampu di andalkan oleh Luis Milla. Pemain tersebut adalah wing bek kiri milik Persija Jakarta, Rezaldi Hehanusa.

Sejak musim lalu Rezaldi Hehanusa telah menjelma menjadi pemain yang paling di andalkan Persija Jakarta di ajang Liga 1 walaupun usia sang pemain yang terbilang masih cukup muda.


Bersama Persija Jakarta musim lalu, Rezaldi Hehanusa telah menjelma menjadi salah satu bek terbaik Indonesia saat ini. Pemain yang mempunyai nama juluka Bule tersebut bahkan menyabet pemain muda terbaik Liga 1 musim 2017 dan pemain muda terbaik Piala Presiden 2018.

Berkat penampilan apiknya tersebut, Rezaldi Hehanusa telah menjadi andalan Timnas Indonesia di level U-23 maupun Timnas Senior Indonesia. Di ajang SEA Games 2017, Rezaldi Hehanusa bahkan terus menjadi pemain andalan Luis Mila di posisi bek kiri Timnas U-22.


Walaupun Timnas Indonesia telah memiliki pemain yang dapat diandalkan di posisi wing bek kiri. Namun, faktanya Indonesia masih belum menemukan pemain yang tepat untuk mengisi posisi wing bek kanan Timnas Indonesia.

Beberapa pemain yang pernah dipasang Luis Milla di posisi wing bek kanan seperti Gavin Kwan Adsit, I Putu Gede, hingga Beny Wahyudi nyatanya masih belum menunjukan penampilan yang diharapkan Luis Milla. Posisi bek kanan juga masih kerap menjadi titik lemah Timnas Indonesia U-23 dan Timnas Senior.


Dalam pertandingan SEA Games 2017 dan beberapa laga persahabatan Internasional, Luis Muilla secara bergantian menurunkan Gavin, Kwan Adsit, I Putu Gede, maupun Beny Wahyudi. Hal tersebut membuktikan bahwa Luis Milla masih belum menemukan pemain yang cocok di posisi wing bek kanan Timnas Indonesia.

Namun, apabila PSSI resmi menaturalisasi pemain berdarah Indonesia yang kini bermain di kasta tertinggi Liga Belgia bersama Zulte Waregem yakni Sandy Walsh. Maka dapat dipastikan pemain berusia 22 tahun tersebut akan menjadi tambahan amunisi yang sangat berguna bagi Luis Milla di posisi wing bek kanan.


Sandy Walsh yang masih berusia 22 tahun dan menjadi pilihan utama Zulte Waregem di kompetisi tertinggi Liga Belgia tentu menjadikan Sandy Walsh bukan pemain berdarah Indonesia yang memiliki kualitas biasa-biasa saja seperti pemain Naturalisasi lainnya.

Pengalamannya bermain di kasta tertinggi Liga Belgia dan Europa League musim 2017/ 18 tentu menjadi nilai lebih bagi Sandy Walsh. Kemampuannya sebagai wing bek kanan tentu tidak dapat diremehkan. Kuat dalam bertahan dan lihai dalam membantu penyerangan membuat pemain berusia 22 tahun tersebut menjadi pilihan utama pelatih Francky Dury dalam mengisi posisi wing bek kanan Zulte Waregem musim ini.


Bersama Zulte Waregem musim ini, Sandy Walsh telah tampil reguler dan mengemas 17 kali pertandingan dari 13 pertandingan sebagai starter dan 4 kali dari bangku cadanngan dan telah mengemas 1 gol.

Sandy Walsh sebenarnya secara terang-terangan ingin membela Timnas Indonesia secepat mungkin. Pemain berusia 22 tahun tersebut sering memposting kecintaanya terhadap Indonesia melalui media sosial pribadinya.


Sebenarnya sangat jarang ada pemain muda berdarah Indonesia memiliki karir yang bagus di kasta tertinggi Liga Eropa mengutarakan hasratnya untuk membela Timnas Indonesia. Tentu hal tersebut sangat menguntungkan bagi Timnas Indonesia apabila mampu mengamankan pemain seperti Sandy Walsh.


Apabila nantinya Sandy Walsh resmi dinaturalisasi dan masuk dalam skuat Asian Games 2018 dan Piala AFF 2018 tentu akan menjadi tambahan yang luar biasa bagi Timnas Indonesia di lini belakang. Sandy Walsh bersama Hansamu Yama, Fachrudin/Igbonefo, dan Rezaldi Hehanusa tentu akan menjadikan quartet lini pertahanan Indonesia sangat kuat.


Walaupun secara terbuka Sandy Walsh bersedia berseragama Timnas Indonesia. Namun, sampai saat ini proses naturalisasi dirinya yang dilakukan oleh PSSI selaku induk organisasi sepak bola Indonesia masih belum jelas.

Semoga saja sebelum gelaran Asian Games 2018, Sandy Walsh sudah resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan bisa memperkuat Timnas Indonesia di Asian Games 2018 dan Piala AFF 2018.

Sumber

5 Pemain Kelas Dunia Incaran Persib Bandung, yang Paling Akhir Sempat Bikin Bobotoh Heboh

Persib Bandung merupakan salah satu klub besar di Indonesia dan memiliki jumlah fan paling banyak.

Perkembangan Persib Bandung selalu menjadi magnet untuk pencinta sepak bola nasional.


Termasuk dengan bursa transfer Liga 1, Persib dikaitkan dengan striker Johor Darul Takzim Jorge Pererya Diaz.

Pasalnya sang juru racik, Mario Gomez menyatakan membutuhkan penyerang.

Lantas Jorge Pereyra Diaz dihubung-hubungkan karena disaat Persib membutuhkan striker, ia meninggalkan Johor Darul Takzim daat transit di Singapura untuk menuju Veitnam melakoni laga Piala AFC 2018.

Namun jauh sebelum Jorge Pereyra Diaz, Persib dirumorkan dengan bintang kelas dunia.

Beberapa di antaranya pernah bermain di Liga Inggris dan merasakan gelar juara.

Namun hanya Michael Essien dan Carlton Cole yang berseragam Persib.

Dilansir dari BolaSport.com melansir dari SuperBall.id, lima pemain kelas dunia yang sempat dirumorkan dengan Persib Bandung.

Pemain yang pernah bermain untuk Arsenal dan Manchester United itu dirumorkan saat Persib tak memiliki striker berbahaya di musim lalu.


Robin van Persie dianggap menjadi pengganti tepat posisi yang ditinggalkan Cartlon Cole.

Namun kabar itu dibantah oleh manajemen Persib.

"Saya tidak tahu, tidak ada kabar seperti itu. Biar media bebas saja ngomong, kalau dari sini belum ada. Kami kumpul dulu, pemain lokal, siapa pelatih, dan pemain," kata Zainuri saat dihubungi, Kamis (2/11/2017).

Namun musim ini, Robin van Persie telah bermain untuk klub kasta atas Liga Belanda, Feyenoord.


Carloz Teves dirumorkan dengan Persib karena banyaknya dorongan netizen memintanya untuk bergabung dengan tim asal Jawa Barat itu.

Kolom komentar Carlos Teves diserbbu komentar untuk segera merapat ke Persib.

Namun harga Carlos Tevez sangatlah mahal untuk klub Indonesia.

Di Shenhua, Teves menerima gaji 3,7 miliar per pekan.


Isu mantan kapten Chelsea FC itu merapat ke Persib beredar saat Direktur PT PBB, Teddy Tjahyono kedapatan bertemu dengan Frank Lampard di London, Inggris.

Namun pertemuan tersebut tidak diketahui pasti perihal negoisasi atau tidak, dan tidak ada berita lanjutan dari kabar tersebut.

Ajakan warganet di dalam akun instagram Essien pun juga memanaskan isu tersebut.


Mantan pemain Chelsea FC itu menjadi isu akan bergabung dengan Persib saat Ashley Cole memfollow akun resmi tim berjulukan Maung Bandung itu.

Ashley Cole dirumorkan merapat ke Persib sejak musim lalu.

Ketika itu Michael Essien yang baru datang ke Liga Indonesia bersama Persib, diduga membuat Ashley Cole tertarik.

Saat ini Ashley Cole menjadi bagian dari tim kasta atas Amerika, LA Galaxy.


Kaitan Ronaldinho denga Persib muncul, setelah kedatangan Michael Essien di Persib.

Dikabarkan Ronaldinho ialah pilihan pertama Persib untuk marquee player.

Namun ia saat itu lebih dulu menjadi bagian dari manajemen Barcelona.

Sumber

5 Pemain Liga Top Eropa yang Ingin Bela Timnas Indonesia

Entah kekurangan bibit muda potensial atau kesulitan mengolahnya menjadi pemain bintang, Indonesia kini dilanda paceklik gelar. Dalam beberapa tahun terakhir, timnas gagal menorehkan tinta emas karena selalu gagal membawa pulang gelar juara. Terakhir, skuat asuhan Luis Milla ini berlaga pada SEA Games 2017 dan hanya menggondol juara ketiga atau medali perunggu.


Bukan hanya timnas senior, dahaga gelar juga menghampiri timnas U-23 Indonesia. Oleh karena itu, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) selaku induk sepakbola Tanah Air tengah gencar melakukan proses naturalisasi. Mereka menyaring para bakat-bakat bertalenta yang besar di Eropa dengan harapan mau kembali ke tanah air dan bergabung dengan skuat Garuda.

Sebagian dari mereka ada yang menyanggupi namun ada juga yang menyatakan tidak. Uniknya, ada beberapa pemain Liga top benua biru yang sangat ingin membela Indonesia. Lebih lanjut, mereka juga telah melemparkan 'kode' agar dapat dipanggil dengan mengenakan baju merah putih dengan lambang garuda di dada. Siapa saja mereka? INDOSPORT akan rangkumkan profil mereka di bawah sini.


Pemain pertama yang melemparkan sinyal adalah Joey Suk. Penggawa Go Ahead Eagles ini mengenakan seragam latihan timnas beberapa waktu lalu dan mengunggahnya di akun Instagram pribadinya @joeysuk. Dalam unggahan itu, terlihat ia tengah berada di pusat kebugaran. Pesepakbola berusia 28 tahun ini juga menambahkan caption, “ini terasa sangat bagus.”

Sebelumnya, Joey Suk sudah pernah diproyeksikan masuk ke timnas Indonesia pada tahun 2011 lalu bersama dengan Ruben Wuarbanaran, Stefano Lilipaly dan Diego Michiels. Namun, ia mengurungkan niatnya karena permasalahan dualisme yang mendera sepakbola Indonesia kala itu.


Jordy Tutuarima menjadi pemain berdarah Indonesia lainnya yang sangat tertarik untuk bergabung dengan skuat Garuda. Hal tersebut bahkan telah ia utarakan kepada Stefano Lilipaly pada tahun 2017 lalu. Lebih dari itu, ia juga membuat sebuah postingan terkait ketertarikan bermain dengan Irfan Bachdim dan kawan-kawan di ajang Piala AFF 2016 lalu.

Pemain yang berposisi sebagai bek sayap ini baru saja pindah dari SC Telstar ke De Graafschap. Klub itu sendiri bermain di kasta kedua Liga Belanda. Kini, Jordy masih berharap untuk dipanggil ke timnas dan Stefano Lilipaly juga tengah mengusahakan hal itu terwujud.


Sandy Walsh juga pernah mengutarakan minatnya untuk bergabung dengan timnas Indonesia. Pesepakbola berusia 22 tahun itu pernah mengunggah sebuah instastory di akun Instagramnya untuk mendukung timnas Indonesia U-23 dalam laga persahabatan melawan Suriah di akhir tahun lalu. Unggahan itu cukup menarik atensi dari para netizen yang menyuruhnya untuk segera merampungkan proses naturalisasinya.

Kini, Sandy tengah berada di Belgia dan membela klub SV Zulte Waregem. Di sana, pemuda yang juga mempunyai darah Belanda dan Inggris ini sudah memainkan 23 laga dengan torehan satu gol dan satu assist. Apabila ia bisa menjaga konsistensinya, bukan tidak mungkin PSSI akan mempercepat kepindahannya menjadi warga negara Indonesia.


Pemain AS Roma, Radja Nainggolan sebenarnya sangat ingin membela Timnas Indonesia namun peraturan FIFA membuat semuanya buyar. Menurut pemain berdarah Batak ini, ia telah berada di skuat timnas Belgia sejak U-20. Bergabung dengan timnas asal Eropa, Nainggolan tidak berpikir untuk menolaknya.

“Saya bermain bersama tim nasional Belgia. Kemudian saya berpikir bisa bermain untuk Indonesia. Namun, saya berpikir ulang. Sekarang sudah tidak bisa, mungkin itu sedikit mengecewakan,”  ujar Nainggolan dikutip dari Bolalob.

Menurut peraturan federasi sepakbola dunia, FIFA, pemain yang telah bergabung dengan tim nasional tidak diperbolehkan lagi membela negara lain di ajang apapun itu, baik resmi maupun persahabatan.


Dipanggil Gassao, Gaston Salasiwa menjadi nama pemuda terakhir yang tertarik dinaturalisasi oleh timnas Indonesia. Pemuda berusia 29 tahun ini pertama kali mencuat pada tahun 2009 silam. Kala itu, ia masih membela SC Telstar di divisi kedua Liga Belanda. Pertandingan perdananya di kancah professional berakhir manis dengan mencetak dua gol dan satu assist.

Sejak saat itu, Gassao tampil semakin gemilang dan mampu menuai banyak pujian. Hingga pada akhirnya, ia sempat memilih datang ke Indonesia dan bergabung dengan Bintang Medan di kompetisi Liga Primer Indonesia. Sayangnya, ia kemudian memilih balik ke Belanda karena efek dualisme yang mendera pada tahun 2011 lalu.

“Saya pikir Liga Indonesia bagus dan setiap stadion selalu penuh. Semangat para fans juga membuat kompetisi lebih atraktif. Saya juga tertatik bermain untuk Timnas Indonesia karena saya mempunyai garis keturuan dari sebuah desa kecil bernam Waeputih di Pulau Buru, Maluku,” ungkap Gaston seperti yang dilansir dari Sepakbola.com.

Sumber

Menolak Membela Timnas Indonesia, Pemain Senilai 855 Juta ini Justru Alami Nasib Baik

Indonesia - Indonesia sejatinya memiliki pemain muda yang memiliki talenta luar biasa. Mereka selalu totalitas dalam berkarir di dunia sepakbola. Bahkan banyak diantara mereka yang menimba ilmu atau mengejar karir di luar negeri. Karena tidak di pungkiri masa depan sepakbola luar negeri nyatanya lebih menjanjikan ketimbang di dalam negeri.

Ada juga beberapa pemain muda yang harus mampu membagi waktu dan pikiran mereka untuk karir di luar negeri dan untuk tetap membela Timnas Indonesia. Jadi ketika Timnas membutuhkan mereka harus bersedia mengikuti panggilan dari Timnas Indonesia.


Namun sepertinya peraturan itu diacuhkan oleh salah satu pemain muda yang tengah berada di Luar negeri dan juga masuk dalam daftar nama Timnas U-19 Indonesia. Ya, sebenarnya nama Andri Syahputra masuk dalam 12 pemain Indonesia di luar negeri yang dipanggil oleh PSSI ke seleksi Timnas U-19 Indonesia pada Maret 2017.

Meski dirinya sadar jika mendapat panggilan dari Timnas, Namun, Andri Syahputra memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi tersebut dan lebih memilih tetap berada di Qatar.


Hal lain diungkapkan oleh sang ayah, menurut ayah Andri Syahputra, Agus Sudarmanto, Andri menolak panggilan pelatih Timnas U-19 Indonesia, Indra Sjafri, karena alasan pendidikan. Ia berani menolak panggilan Timnas begitu saja dan tetap fokus untuk menimba ilmu di Qatar.

Lama tak terdengar kabarnya, secara mengejutkan ternyata Andri Syahputra, kini nasibnya jauh lebih baik, karena dia bergabung satu klub dengan eks pemain Inter Milan dan Real Madrid, Wesley Sneidjer.


Ya, Wesley Sneijder resmi membela klub Qatar itu sejak Januari 2018 lalu. Dan hebatnya, meski Andri Syahputra kini masih berada di tim muda Al Gharafa U-23 yang berkompetisi di Qatar Gas League U-23, Andri Syahputra kerap kali latihan bersama tim senior Al Gharafa.

Tentu ini sebuah hal yang sangat baru baginya dan merupakan pengalaman yang sangat menarik mengingat dirinya sudah beberapa kali mengikuti latihan bersama tim senior Al Gharafa.


Seperti yang dikutip dari transfermarkt.com (5/3/2018), harga Andri Syahputra saat ini memiliki nilai hingga £45000, atau setara dengan Rp 855 Juta. Tentu harga tersebut amat sangat murah, jika dibandingkan dengan pemain Timnas Indonesia yang lain.

Setelah menolak panggilan timnas dan memilih untuk tetap fokus berkarir di Qatar, ternyata usahanya in tak sia-sia. Nyatanya kini Andri Syahputra telah resmi tergabung di tim muda Al Gharafa dan beberapa kali mendapatkan kesempatan latihan bersama tim senior Al Gharafa.

Sumber

Baru Berumur 7 Tahun, Bocah Jakarta Utara Ini Raih Prestasi di Akademi Barcelona

Talenta berbakat sepakbola asli Indonesia yang tengah berkarier di Eropa tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Para talenta muda ini terus mengembangkan karier mereka meski minim perhatian dari banyak pihak di negeri ini.



Satu lagi muncul talenta asli Indonesia yang saat ini tengah merintis karier di Barcelona, Spanyol. Ocean Erwin Lim namanya. Ia baru berumur 7 tahun namun prestasinya patut diancungi dua jempol. Ocean seperti dikutip dari marcetfootball.com (15/02/18) tercatat tengah bermain untuk akademi sepakbola Marcet Football.


Marcet Football Academy merupakan salah satu akademi yang ada di Barcelona, Spanyol. Marcet juga akademi yang melahirkan bakat muda Indonesia yang saat ini tengah berkarier di Yunani, Nicholas Pambudi.

Ocean sendiri baru mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik dari Marcet atas prestasinya mencetak banyak gol dan assist untuk tim junior Marcet.

"Desde Indonesia llega el primer #MVPMarcetJr del año: O. Erwin. Su energía al volver de vacaciones se ha visto reflejada en el campo, aportando goles y asistencias." tulis pernyataan resmi Marcet.


Tidak satu kali Ocean mendapat penghargaan tersebut. Pada Oktober 2017 masih dikutip dari website resmi Marcet, Ocean menjadi salah satu pemain terbaik Marcet. Ia sukses bersanding dengan talenta muda yang berasal dari negara lain seperti Spanyol, Ukraina, dan Rumania.

Selain itu, pada Juni 2017 lalu, Ocean mampu antarkan tim junior Marcet menjadi juara pada kompetisi sepakbola junior di Barcelona. Ocean merupakan anak kedua dari pasangan asli Indonesia, Erwin Lim dan Lulu Erwin Lim.


sumber

Ini Syarat Jadi Siswa di Akademi Persib

resmi dikenalkan kepada publik, Selasa (13/2/2018). Akademi yang didirikan berkat kerja sama dengan klub raksasa Liga Italia, Inter Milan, ini diluncurkan di Bandung dengan dihadiri petinggi Inter Milan, Erick Thohir serta Javier Zanetti.

Bagi mereka yang tertarik mengirimkan putra, adik, keponakan, atau kerabat untuk masuk sebagai anak didik Akademi Persib, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.


Perwakilan dari Akademi Persib yang juga manajer Diklat Persib, Yoyo S. Adireja, menuturkan syarat pertama, peserta didik harus berusia 10-16 tahun. Kemudian, membayar biaya operasional. "Karena ini kan berbayar, jadi pembayaran itu sebagai biaya operasional," ujar Yoyo.

Yoyo menjelaskan, sebagai biaya awal, peserta harus membayar sejumlah Rp 1 juta serta membayar iuran sebesar Rp 500 ribu. "Kami menarik sejumlah itu karena kami juga butuh sewa lapangan untuk latihan. Apalagi lapangan di Bandung tidak murah sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar," katanya.

Yoyo menjelaskan, sebagai biaya awal, peserta harus membayar sejumlah Rp 1 juta serta membayar iuran sebesar Rp 500 ribu. "Kami menarik sejumlah itu karena kami juga butuh sewa lapangan untuk latihan. Apalagi lapangan di Bandung tidak murah sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar," katanya.

"Akademi Persib punya 17 calon pelatih yang ikut training for trainer kemudian nanti akan dipandu dari Inter Milan. Kalau di antara peserta bisa menunjukkan talenta bagus, tentu ada peluang untuk diambil Diklat Persib," ujar Yoyo.


Sumber